Jumat, 11 Januari 2013

Kemuning yang terlupakan.(1)

Disudut bibir pantai seorang gadis tengah termenung sendiri, matanya menatap debur ombak yang perlahan menepi, sekali-kali wajahnya tertunduk memandangi hamparan pasir putih yang terinjak kakinya, sambil ia mainkan ibu jari kakinya, ia tuliskan garis-garis yang tak menentu pertanda hatinya tengah dilanda gelisah.

Ditangannya ada setangkai bunga Edelweis yang tak utuh lagi kelopak-kelopak kecilnya, entah apa yang ada dalam benak fikirannya, ia putar perlahan tangkai Edelweis itu hingga helai-helai rambut bunga itu perlahan terbang, kembali dia menatap ke arah lautan lepas, matanya jauh menerawang ke seberang batas lautan.

Tertegun lama dia menatap gelombang yang saling berkejaran, terlihat bibirnya sekali waktu mengulum senyum pahit dan melepasnya bersamaan dengan nafasnya yang ia lepas seperti melepas beban berat dihati.
Terdengar lirih dia mengucapkan kata-kata seakan hanya untuk dirinya sendiri. "Kapan kau datang kasihku, merapatkan kapalmu di dermaga ini menginjakkan kakimu ditepi pantai hatiku, aku senantiasa menunggumu tuk kembali bersama berbagi cerita, sampai kapan aku menunggumu, yang tak pernah aku dengar kabarmu hanya suara debur ombak dan burung laut yang aku temui tiap aku mengingatmu di tempat kita selalu bertemu".

Terlihat air matanya mulai perlahan mengalir membasahi dikedua belah pipinya yang putih, dia biarkan jatuh sampai batas wajahnya, dia seakan tidak peduli lagi akan keadaan disekitarnya. Angin meniup helai rambutnya yang hitam dan panjang,kadang helaian rambutnya menyapu ke wajahnya yang ayu,cahaya mentari senja mulai menyinarti sebagian tubuhnya.

Dia tetap berdiri memandang kosong kelautan yang disinari lembayung senja, dia biarkan buih-buih gelombang menepi menyapa kakinya yang elok.

"KEMUNING" ..itulah nama gadis ayu itu...... Dia telah lama ditinggalkan kekasihnya tuk pergi menunaikan tugas sebagai pengabdi negara. Dia selalu berharap kasihnya kan kembali ke hatinya. Dengan setia dia menanti walau waktu tak pernah berpihak kepadanya.Dia tetap menunggu ditepi pantai tiap senja datang, dia akan pergi ke rumahnya bersama jatuhnya sang mentari kedalam lautan dan gelap menjelang.   .


2 komentar: