Di suatu tempat diantara deru suara mesin jalanan seorang lelaki tengah berjalan menyusuri trotoar dengan berseragam abdi negara, langkah kakinya seakan mantap membawa nya menuju tempat tujuan. Sinar mentari yang membakar tubuhnya yang hitam tak dihiraukannya, dia terus melangkang mengayunkan kakinya di antara daun-daun kering yang berserakan. Tak terlihat lelah di raut wajahnya walau keringat telah membasahi sebagian tubuhnya.
Matanya terus menatap lurus kedepan sekali-kali ia memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di sampingnya, sedikitpun dia tak merasa terganggu,kadang terlihat bibirnya mengucapkan sesuatu, tapi tak jelas terdengar. Lelaki ini parasnya tak begitu tampan, dan juga tak bertubuh bagus bahkan kesannya dia bukan seorang abdi negara kalo badannya tak terbungkus seragam.
Dia "Hendro" kekasih Kemuning. Lama sudah Hendro meninggalkan Kemunng tuk mengikuti pendidikan keprajuritan, selama dalam bara' tak sekalipun dia menghubungi Kemuning, dia benar benar melupakannya bahkan dia sibuk dengan rayuan rayuan nya ntuk gadis-gadis lain.Seakan tak sedikit pun fikirannya tertuju kepada kekasihnya yang jauh dan setia menunggunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar