Di suatu tempat diantara deru suara mesin jalanan seorang lelaki tengah berjalan menyusuri trotoar dengan berseragam abdi negara, langkah kakinya seakan mantap membawa nya menuju tempat tujuan. Sinar mentari yang membakar tubuhnya yang hitam tak dihiraukannya, dia terus melangkang mengayunkan kakinya di antara daun-daun kering yang berserakan. Tak terlihat lelah di raut wajahnya walau keringat telah membasahi sebagian tubuhnya.
Matanya terus menatap lurus kedepan sekali-kali ia memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di sampingnya, sedikitpun dia tak merasa terganggu,kadang terlihat bibirnya mengucapkan sesuatu, tapi tak jelas terdengar. Lelaki ini parasnya tak begitu tampan, dan juga tak bertubuh bagus bahkan kesannya dia bukan seorang abdi negara kalo badannya tak terbungkus seragam.
Dia "Hendro" kekasih Kemuning. Lama sudah Hendro meninggalkan Kemunng tuk mengikuti pendidikan keprajuritan, selama dalam bara' tak sekalipun dia menghubungi Kemuning, dia benar benar melupakannya bahkan dia sibuk dengan rayuan rayuan nya ntuk gadis-gadis lain.Seakan tak sedikit pun fikirannya tertuju kepada kekasihnya yang jauh dan setia menunggunya.
Sabtu, 12 Januari 2013
Jumat, 11 Januari 2013
Kemuning yang terlupakan.(1)
Disudut bibir pantai seorang gadis tengah termenung sendiri, matanya menatap debur ombak yang perlahan menepi, sekali-kali wajahnya tertunduk memandangi hamparan pasir putih yang terinjak kakinya, sambil ia mainkan ibu jari kakinya, ia tuliskan garis-garis yang tak menentu pertanda hatinya tengah dilanda gelisah.
Ditangannya ada setangkai bunga Edelweis yang tak utuh lagi kelopak-kelopak kecilnya, entah apa yang ada dalam benak fikirannya, ia putar perlahan tangkai Edelweis itu hingga helai-helai rambut bunga itu perlahan terbang, kembali dia menatap ke arah lautan lepas, matanya jauh menerawang ke seberang batas lautan.
Tertegun lama dia menatap gelombang yang saling berkejaran, terlihat bibirnya sekali waktu mengulum senyum pahit dan melepasnya bersamaan dengan nafasnya yang ia lepas seperti melepas beban berat dihati.
Terdengar lirih dia mengucapkan kata-kata seakan hanya untuk dirinya sendiri. "Kapan kau datang kasihku, merapatkan kapalmu di dermaga ini menginjakkan kakimu ditepi pantai hatiku, aku senantiasa menunggumu tuk kembali bersama berbagi cerita, sampai kapan aku menunggumu, yang tak pernah aku dengar kabarmu hanya suara debur ombak dan burung laut yang aku temui tiap aku mengingatmu di tempat kita selalu bertemu".
Terlihat air matanya mulai perlahan mengalir membasahi dikedua belah pipinya yang putih, dia biarkan jatuh sampai batas wajahnya, dia seakan tidak peduli lagi akan keadaan disekitarnya. Angin meniup helai rambutnya yang hitam dan panjang,kadang helaian rambutnya menyapu ke wajahnya yang ayu,cahaya mentari senja mulai menyinarti sebagian tubuhnya.
Dia tetap berdiri memandang kosong kelautan yang disinari lembayung senja, dia biarkan buih-buih gelombang menepi menyapa kakinya yang elok.
"KEMUNING" ..itulah nama gadis ayu itu...... Dia telah lama ditinggalkan kekasihnya tuk pergi menunaikan tugas sebagai pengabdi negara. Dia selalu berharap kasihnya kan kembali ke hatinya. Dengan setia dia menanti walau waktu tak pernah berpihak kepadanya.Dia tetap menunggu ditepi pantai tiap senja datang, dia akan pergi ke rumahnya bersama jatuhnya sang mentari kedalam lautan dan gelap menjelang. .
Ditangannya ada setangkai bunga Edelweis yang tak utuh lagi kelopak-kelopak kecilnya, entah apa yang ada dalam benak fikirannya, ia putar perlahan tangkai Edelweis itu hingga helai-helai rambut bunga itu perlahan terbang, kembali dia menatap ke arah lautan lepas, matanya jauh menerawang ke seberang batas lautan.
Tertegun lama dia menatap gelombang yang saling berkejaran, terlihat bibirnya sekali waktu mengulum senyum pahit dan melepasnya bersamaan dengan nafasnya yang ia lepas seperti melepas beban berat dihati.
Terdengar lirih dia mengucapkan kata-kata seakan hanya untuk dirinya sendiri. "Kapan kau datang kasihku, merapatkan kapalmu di dermaga ini menginjakkan kakimu ditepi pantai hatiku, aku senantiasa menunggumu tuk kembali bersama berbagi cerita, sampai kapan aku menunggumu, yang tak pernah aku dengar kabarmu hanya suara debur ombak dan burung laut yang aku temui tiap aku mengingatmu di tempat kita selalu bertemu".
Terlihat air matanya mulai perlahan mengalir membasahi dikedua belah pipinya yang putih, dia biarkan jatuh sampai batas wajahnya, dia seakan tidak peduli lagi akan keadaan disekitarnya. Angin meniup helai rambutnya yang hitam dan panjang,kadang helaian rambutnya menyapu ke wajahnya yang ayu,cahaya mentari senja mulai menyinarti sebagian tubuhnya.
Dia tetap berdiri memandang kosong kelautan yang disinari lembayung senja, dia biarkan buih-buih gelombang menepi menyapa kakinya yang elok.
"KEMUNING" ..itulah nama gadis ayu itu...... Dia telah lama ditinggalkan kekasihnya tuk pergi menunaikan tugas sebagai pengabdi negara. Dia selalu berharap kasihnya kan kembali ke hatinya. Dengan setia dia menanti walau waktu tak pernah berpihak kepadanya.Dia tetap menunggu ditepi pantai tiap senja datang, dia akan pergi ke rumahnya bersama jatuhnya sang mentari kedalam lautan dan gelap menjelang. .
Kamis, 10 Januari 2013
Bila hasrat telah usai maka berlalu pula keinginan hati tuk bersama membagi tawa,duka dan cerita.
Semua akan begitu mudah tuk dilupakan kalau kebersamaan kita hanya didasari pada keinginan yang tiada makna dan hasrat yang mengotori jiwa.
Bukankah itu akan membuka siapa diri kita dan niat yang ada di hati kita sebenarnya dengan berlalu tanpa meninggalkan kesan seakan tak perlu lagi kita bersama . BUAT APA KITA MENGENALKAN DIRI KITA !!!!!!
Semua akan begitu mudah tuk dilupakan kalau kebersamaan kita hanya didasari pada keinginan yang tiada makna dan hasrat yang mengotori jiwa.
Bukankah itu akan membuka siapa diri kita dan niat yang ada di hati kita sebenarnya dengan berlalu tanpa meninggalkan kesan seakan tak perlu lagi kita bersama . BUAT APA KITA MENGENALKAN DIRI KITA !!!!!!
Selasa, 08 Januari 2013
Sudah berulang kali aku berusaha mengingat, tapi kenapa selalu dan selalu tak pernah bisa aku ingat, baik wajahnya,postur tubuhnya juga semua sifat dan tingkahnya, tak satupun yang aku ingat.
Apakah benar aku telah melupakan orang orang yang pernah menjadi teman-temanku atau mungkin memoriku yang sudah tak muat lagi ? atau munkin aku memang tak begitu menyukai saat-saat bersama mereka................JAHATKAH AKU???????????
Apakah benar aku telah melupakan orang orang yang pernah menjadi teman-temanku atau mungkin memoriku yang sudah tak muat lagi ? atau munkin aku memang tak begitu menyukai saat-saat bersama mereka................JAHATKAH AKU???????????
Minggu, 06 Januari 2013
catatan RINDUKU
Angin senja mengapa kau tiupkan goresan luka dihati
kau belai lembut mengiris duka membawa pilu menyayat
Lembayung nan elok mengapa pula kau sinari hati ini
dengan sinar temarammu mengirim kesepian disukma
Jiwa yang lesu dan cape ini telah menjadi kuyuh karenamu
kau tebar benih kerinduan yang tak pernah ku mengerti
Kisi hati yang dulu tertutup tak pernah ku duga kan terbuka
terisi oleh bayangan semu yang hanya datang olehmu
Dapatkah jiwa raga ini menahan segala gelora yang ada
membuang jauh kepedihan dan keterpurukan dihati
Menambatkan rasa yang dulu ada dan tersimpan disukma
menghilangkan kehampaan yang kadang ikut hadir
Malam yang pekat bawakan aku kepada tuanku
merasuk asa membawa rindu yang lama terpendam
Pengobat hati nan lara dan pilu kan kucari dikau
dalam lamunan dan mimpi mimpiku kelak
kau belai lembut mengiris duka membawa pilu menyayat
Lembayung nan elok mengapa pula kau sinari hati ini
dengan sinar temarammu mengirim kesepian disukma
Jiwa yang lesu dan cape ini telah menjadi kuyuh karenamu
kau tebar benih kerinduan yang tak pernah ku mengerti
Kisi hati yang dulu tertutup tak pernah ku duga kan terbuka
terisi oleh bayangan semu yang hanya datang olehmu
Dapatkah jiwa raga ini menahan segala gelora yang ada
membuang jauh kepedihan dan keterpurukan dihati
Menambatkan rasa yang dulu ada dan tersimpan disukma
menghilangkan kehampaan yang kadang ikut hadir
Malam yang pekat bawakan aku kepada tuanku
merasuk asa membawa rindu yang lama terpendam
Pengobat hati nan lara dan pilu kan kucari dikau
dalam lamunan dan mimpi mimpiku kelak
Langganan:
Komentar (Atom)